RUMUS MATEMATIKA
Jumat, 11 Januari 2013
Kamis, 10 Januari 2013
KISAH KETULUSAN HATI ABU AYYUB SAHABAT RASULULLAH
Sahabat
yang Rasulullah ini bernama : KHALID BIN ZAID BIN KULAIB dari Bani Najjar.
Gelarnya Abu Ayyub, dan golongan Anshar. Siapakah di antara kaum muslimin yang
belum mengenal Abu Ayyub Al Anshary? Nama dan derajatnya dimuliakan Allah di
kalangan makhluk, baik di Timur maupun di Barat. Karena Allah telah memilih
rumahnya di antara sekalian rumah kaum muslimin, untuk tempat tinggal Nabi-Nya
yang mulia, ketika beliau baru tiba di Madinah sebagai Muhajir. Hal ini cukup
membanggakan bagi Abu Ayyub.
Bertempatnya
Rasulullah di rumah Abu Ayyub merupakan kisah manis untuk diulang-ulang dan
enak untuk dikenang-kenang. Setibanya Rasulullah di Madinah, beliau disambut
dengan hati terbuka oleh seluruh penduduk, beliau dialu-alukan dengan kemuliaan
yang belum pernah diterima seorang tamu atau utusan manapun. Seluruh mata
tertuju kepada beliau memancarkan kerinduan seorang kekasih kepada kekasihnya
yang baru tiba. Mereka membuka hati lebar-lebar untuk menerima kasih sayang
Rasulullah.
Mereka
buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia yang drindukan itu
sudi bertempat tinggal di rumah mereka. Sebelum sampai di kota Madinah, beliau
berhenti lebih dahulu di Quba selama beberapa hari. Di kampung itu beliau
membangun masjid yang pertama-tama didirikan atas dasar taqwa.
Mereka
buka pula pintu rumah masing-masing, supaya kekasih mulia yang drindukan itu
sudi bertempat tinggal di rumah mereka. Sebelum sampai di kota Madinah, beliau
berhenti lebih dahulu di Quba selama beberapa hari. Di kampung itu beliau
membangun masjid yang pertama-tama didirikan atas dasar taqwa.
"Ya, Rasulullah! Sudilah Anda tinggal di rumah saya selama Anda menghendaki. Akomodasi. dan keamanan Anda terjamin sepenuhnya." kata mereka berharap. Jawab Rasulullah, "Biàrkanlah unta itu berjalan ke mana dia mau, karena dia sudah mendapat perintah." Unta Rasulullah terus berjalan. diikuti semua mata, dan diharap-harapkan seluruh hati. Bila untuk melewati sebuah rumah, terdengar keluhan putus asa pemiliknya, karena apa yang diangan-angankannya ternyata hampa. Unta terus berjalan melenggang seenaknya. Orang banyak mengiringi di belakang. Mereka ingin tahu siapa yang beruntung rumahnya ditempati tamu dan kekasih yang mulia ini. Sampai di sebuah lapangan, yaitu di muka halaman rumah Abu Ayyub Al Anshary unta itu berlutut.
Rasulullah
tidak segera turun dan punggung unta. Unta itu disu ruhnya berdiri dan berjalan
kembali. Tetapi setelah berkeliling-keliling, untuk berlutut kembali di tempat
semula. Abu Ayyub mengucapkan takbir karena sangat gembira. Dia segera
mendekati Rasulullah dan melapangkan jalan bagi beliau. Diangkatnya
barang-barang beliau dengan kedua tangannya, bagaikan mengangkat seluruh
perbendaharaan dunia.
Lalu
dibawanya ke rumahnya Rumah Abu Ayyub bertingkat tingkat atas dikosongkan dan
dibersihkannya untuk tempat tiniggal Rasulullah. Tetapi Rasuluulah lebih suka
tinggal di bawab. Abu Ayyub menurut saja di mana beliau senang. Setelah malam
tiba, Rasulullah masuk ke kamar tidur. Abu Ayyub dan isteninya naik ke tingkat
atas. Ketika suami isteri itu menutupkan pintu, Abu Ayyub berkata kepada
isterinya, "Celaka….! Mengapa kita sebodoh ini. Pantas kah Rasulullab
bertempat di bawah, sedangkan kita berada lebih tinggi dari beliau"
Pantaskah kita berjalan di atas beliau? Pantaskah kita menghalangi antara Nabi
dan Wahyu? Niscaya kita celaka!" Kedua suami isteri itu bingung, tidak
tahu apa yang harus diperbuat Tidak berapa lama berdiam diri, akhirnya mereka
memilih kamar yang tidak setentang dengan kamar Rasulullah Mereka berjalan
benjingkit.jjngkit untuk menghindarkan suara telapak kaki mereka.
Setelah
hari Subuh, Abu Ayyub berkata kepada Rasulullah kami tidak rnau terpejam
sepicing pun malam ini. Baik aku maupun ibu Ayyub" "Mengapa
begitu?" tanya Rasulullah "Aku ingat, kami berada di atas sedangkan
Rasulullah Yang kami muliakan berada di bawah. Apabila bergerak sedikit saja,
abu berjatuhan mengenai Rasulullah. Di samping itu kami mengalingi Rasulullah
dengan wahyu," kata Abu Ayyub menjelaskan.
"Tenang
sajalah, hai Abu Ayyub. Saya lebih suka bertempat tinggal di bawah, karena akan
banyak tamu yang datang berkunjung."
Kata
Abu Ayyub. Akhirnya saya mengikuti kemauan Rasulullah. Pada suatu malam
yang dingin, bejana kami pecah di tingkat atas, sehingga airnya tumpah. Kain
lap hanya ada sehelai, karena itu air yang kami keringkan dengan baju, kami
sangat kuatir kalau air mengalir ke ternpat Rasulullah. Saya dan Ibu Ayyub
bekerja keras mengering kan air sampai habis. Setelah hari Subuh saya pergi
menemui Rasulullah. Saya berkata kepada beliau, "Sungguh mati, saya segan
bertempat tinggal di atas, sedangkan Rasulullah tinggal di bawah".
Kemudian Abu Ayyub menceritakan kepada beliau perihal bejana yang pecah itu.
Karena itu Rasulullah memperkenankan kami pindah ke bawah dan beliau pindah ke
atas. Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub kurang lebih tujuh bulan.
Setelah
masjid Rasulullah selesai dibangun, beliau pindah ke kamar-kamar yang dibuatkan
untuk beliau dan para isteri beliau sekitar masjid. Sejak pindah dari rumah Abu
, Rasulullah menjadi tetangga dekat bagi Abu Ayyub. Rasulullah sangat
menghargai Abu Ayyub suami isteri sebagai tetangga yang baik. Abu Ayyub
mencintai Rasulullah sepenuh hati. Sebaliknya beliau mencintainya pula,
sehingga mereka saling membantu setiap kesusahan masing-masing.
Rasulullah
memandang rumah Abu Ayyub seperti rumah sendiri. Ibnu Abbas pernah bercerita
sebagai berikut: Pada suatu hari di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar
pergi ke masjid, lalu bertemu dengan Umar ra.
"Hai,
Abu Bakar! Mengapa Anda keluar di saat panas begini?", tanya Umar.
Jawab
Abu Bakar, "Saya lapar!"
Kata
Umar, "Demi Allah! Saya juga lapar."
Ketika
mereka sedang berbincang begitu, tiba-tiba Rasulullah rnuncul.
Tanya
Rasulullah, "Hendak kemana kalian di saat panas begini?"
Jawab
mereka, Demi Allah! Kami rnencari makanan karena lapar."
Kata
Rasulullah, Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya! Saya juga lapar. Nah! Marilah
ikut saya."
Mereka
bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub Al Anshary. Biasanya Abu Ayyub
selalu menyediakan makanan setiap hari untuk Rasulullah. Bila beliau terlambat
atau tidak datang, makanan itu dihabiskan oleh keluarga Abu Ayyub. Setelah
mereka tiba di pintu, Ibu Ayyub keluar menyongsong mereka.
Selamat
datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!" kata Ibu Ayyub.
"Kemana
Abu Ayyub?" tanya Rasulullah.
Ketika
itu Abu Ayyub sedang bekerja di kebun kurrna dekat rumah. Mendengar suara
Rasulullah, dia bergegas rnenemui beliau.
"Selamat
datang, ya Nabiyallah dan kawan-kawan!" kata Abu Ayyub. Abu Ayyub langsung
menyambung bicaranya, "Ya, Nabiyallah! Tidak biasanya Anda datang pada
waktu seperti sekarang.
Jawab
Rasulullah "Betul. hai Abu Ayyub!
Abu
Ayyub pergi ke kebun, lalu dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan itu
terdapat kurma yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak.
Kata
Rasulullah, "Saya tidak menghendaki engkau memotong kurma setandan begini.
Alangkah baiknya jika engkau petik saja yang sudah kering."
Jawab
Abu Ayyub, "Ya, Rasulullah! Saya senang jika Anda suka mencicipi buah
kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sementara itu saya sembelih
kambing untuk Anda bertiga."
Kata
Rasulullah, "Jika engkau menyembelih, jangan disembelih kambing yang
sedang menyusui."
Abu
Ayyub menangkap seekor kambing, lalu disembelihnya. Dia berkata kepada Ibu
Ayyub, "Buat adonan roti. Engkau lebih pintar membuat roti." Abu
Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi
dipanggangnya Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan
sahabat beliau. Rasulullah mengambil sepotong gulai kambing, kemudian
diletakkannya di atas sebuah roti yang belum dipotong.
Kata
beliau, "Hai Abu Ayyub! Tolong antarkan ini kepada Fatimah. Sudah beberapa
hari ini dia tidak mendapat makanan seperti ini."
Selesai
makan, Rasulullah berkata, "Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan
kurma setengah masak." Air mata beliau mengalir ke pipinya. Kemudian
beliau bersabda Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya! SesungguhnYy beginilah
nikmat yang kalian minta nanti di hari kiamat. Maka apabila kalian memperoleh
yang seperti ini bacalah "Basmalah" lebih dahulu sebelum kalian makan.
Bila sudah kenyang, baca tahmid: "Segala puji bagi Allah yang telah
mengenyangkan kami dan memberi kami nikmat.
"
Kemudian Rasulullah saw. bangkit hendak pulang. Beliau berkata kepada Abu
Ayyub, Datanglah besok ke rumah kami!" Sudah menjadi kebiasaan bagi
Rasulullah, apabila Seseorang berbuat baik kepadanya, beliau segera membalas
dengan yang lebih baik. Tetapi Abu Ayyub tidak mendengar perkataan
Rasulullah kepadanya.
Lalu
dikata oleh Umar, "Rasulullah menyuruh Anda datang besok ke
rumahnya."
Kata
Abu Ayyub, "Ya, saya patuhi setiap perintah Rasulullah."
Keesokan
harinya Abu Ayyub datang ke rumah Ra sulullah. Beliau memberi Abu Ayyub seorang
gadis kecil untuk pembantu rumah tangga. Kata Rasulullah, Perlakukanlah anak
ini dengan baik, hai Abu Ayyub! Selama dia di tangan kami, saya lihat anak ini
baik." Abu Ayyub pulang ke rumahnya membawa seorang gadis kecil.
"Untuk siapa ini, Pak Ayyub?" tanya Ibu Ayyub. "Untuk kita. Anak
kita diberikan Rasulullah kepada kita,"jawab Abu Ayyub. "Hargailah
pemberian Rasulullah. Perlakukan anak ini lebih daripada sekedar suatu
pemberian " kata Ibu Ayyub.
"Memang!
Rasulullah berpesan supaya kita bersikap baik terhadap anak ini," kata Abu
Ayyub.
"Bagaimana
selayaknya sikap kita terhadap anak ini, supaya pesan beliau terlaksana?"
tanya Ibu Ayyub.
"Derni
Allah! Saya tidak rnelihat sikap yang lebih baik, melainkan
memerdekakannya," jawab Abu Ayyub.
"Kakanda
benar-benar mendapat hidayah Allah. Jika kakanda setuju begitu, baiklah kita
merdekakan dia," kata Ibu Ayyub menyetujui. Lalu gadis kecil itu mereka
merdekakan. ltulah sebagian bentuk nyata celah-celah kehidupan Abu Ayyub
setelah dia masuk Islam. Kalau dipaparkan celah-celah kehidupannya dalam
peperangan, kita akan tercengang dibuatnya. Sepanjang hayatnya Abu Ayyub hidup
dalam peperangan. Sehingga dikatakan orang, "Abu Ayyub tidak pernah absen
dalam setiap peperangan yang dihadapi kaum muslimin sejak masa Rasulullah sampai
dia wafat di masa pemerintahan Mu awiyah. Kecuali bila dia sedang bertugas
dengan suatu tugas penting yang lain. Peperangan terakhir yang ikutinya, ialah
ketika Muawiyah mengerahkan tentara muslimin merebut kota Konstantinopel. Abu
Ayyub seorang prajurit yang patuh dan setia. Ketika itu dia telah berusia lebih
delapan puluh tahun. Suatu usia yang boleh dikatakan usia akhir tua.
Tetapi
usia tidak menghalanginya untuk bergabung dengan tentara muslimin di bawah
bendera Yazid bin Muawiyah. Dia tidak menolak rnengharungi laut, membelah ombak
untuk berperang fi sabilillah. Tetapi belum berapa lama dia berada di medan
tempur menghadapi musuh, Abu Ayyub jatuh sakit. Abu Ayyub terpaksa istirahat di
perkemahan, tidak dapat melanjutkan peperangan karena fisiknya sudah lemah.
Ketika Yazid mengunjungi Abu Ayyub yang sakit, panglima ini bertanya,
"Adakah sesuatu yang Anda kehendaki, hai Abu Ayyub?"
Jawab
Abu Ayyub, Tolong sampaikan salam saya kepada seluruh tentara muslimin. Katakan
kepada mereka, Abu Ayyub berpesan supaya kalian semuanya terus maju sampai ke
jantung daerah musuh. Bawalah saya beserta kalian. Kalau saya mati, kuburkan
saya dekat pilar kota Konstantinopel!"
Tidak
lama sesudah ia berkata demikian, Abu Ayyub menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Dia wafat menemui Tuhannya di tengah-tengah kancah pertempuran.
Tentara muslimin memperkenankan keinginan sahabat Rasulullah yang mulia ini.
Mereka berperang dengan gigih, menghalau musuh dari satu medan ke medan tempur
yang lain. Sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai pilar-pilar kota
Konstantinopel, sambil membawa jenazah Abu Ayyub. Dekat sebuah pilar kota
Konstantinopel niereka menggali kuburuan, lalu mereka makamkan jenazah Abu
Ayyub di sana, sesuai dengan pesan Abu Ayyub. Semoga Allah melimpahkan
rahmat-Nya kepada Abu Ayyub. Dia tidak ingin mati kecuali dalam barisan termpur
yang sedang berperang fi sabiillah. Sedangkan usianya telah mencapai delapan
puluh tahun. Radhiyallahu anhu. Amin!!
Langganan:
Postingan (Atom)